
Cukup menjadi sebuah misteri jika melihat Eden Hazard selalu kalah dalam meraih penghargaan Player the Month Premier League di kelima musimnya di Inggris.
Memang, pemain asal Belgia itu terpilih sebagai Player of the Season di musim 2014/15 kita yang hebat, yang disusul dengan raihan penghargaan individual lain seperti PFA Players' Player of the Year, FWA Footballer of the Year dan Chelsea's Player of the Year.
Tapi jika pemain-pemain seperti Steven Fletcher, Adam le Fondre, Tim Krul, Connor Wickham, Diafra Sakho dan Odion Ighalo sudah pernah meraih penghargaan bulanan itu, sejak 2012, hingga kini Hazard belum pernah menyentuhnya.
Mengingat penampilan cemerlangnya sejak didatangkan dari Lille (terlepas dari delapan bulan pertamanya di musim 2015/16), sulit memahami apa alasan (dari tidak terpilihnya Hazard sebagai pemain terbaik bulanan) yang melatar belakanginya. Tapi, sepertinya anomali itu akan terkoreksi setelah ia menjadi salah satu dari empat kandidat penerima Player of the Month untuk bulan Agustus.
Di daftar itu, ia bersaing dengan Antonio Valencia dari Manchester United, Raheem Sterling dari Manchester City, dan pemain Hull Curtis Davies. Kali ini Premier League melibatkan penggemar untuk ikut memilih pemenangnya lewat pemungutan suara via Twitter.
Jumlah suara diperlihatkan untuk umum dan ketika pemungutan suara ditutup pada 2 September, terlihat jelas bahwa Hazard memiliki suara terbanyak, 41 persen, 400.000 suara lebih banyak di atas perolehan peringkat kedua, Valencia dengan raihan 34 persen.
Beberapa organisasi berita sudah menyerukan kemenangan si pemain Belgia tapi ketika penghargaan diberikan pada 9 September, ternyata bukan dia atau Valencia yang menerimanya, melainkan Sterling yang hanya meraih 17 persen suara publik.
Setelah menggaruk-garuk kepala sebentar, saya cermati lagi bagaimana cara Premier League menentukan juaranya dan ternyata suara publik hanyalah salah satu komponen dari proses seleksi, yang kemudian digabung dengan suara panel dan kapten-kapten dari kedua puluh tim Premier League.
Bahkan, suara publik hanya memiliki andil sebesar 10 persen dari total voting yang berarti tidak memiliki dampak besar atas keputusan final.
Tidak seperti rekan setimnya, Michy Batshuayi, yang memposting beberapa Tweet yang cukup memusingkan pekan ini ketika mendapati betapa rendah ratingna di permainan FIFA 17, Hazardtidak berkomentar apa-apa setelah kembali gagal meraih penghargaan Player of the Month. Bahkan, saya malah berpikir ia tidak terlalu peduli dengan penghargaan itu.
Tapi, jika Anda adalah salah satu dari sekitar 165.000 orang yang memberikan suaranya untuknya, rasanya Anda akan sedikit jengkel dengan hasil yang mengecewakan itu.
Situasi ini mengulangi lagi apa yang terjadi di masa lalu. Pada masa pergantian Milenium, FIFA menciptakan penghargaan - yang tak akan diulangi lagi - bagi pesepakbola-pesepakbola terbaik di abad 20, yang ditentukan lewat pemungutan suara di situs dan majalah resmi mereka ditambah pilihan dari juri utama.
Pemain legenda Brazil, Pele, menjadi pilihan pertama juri utama tapi akhirnya malah pemain jenius yang kontroversial dari Argentina, Diego Maradona yang menjadi pemenang versi pemungutan suara online, yang meraih lebih dari separuh dari sekitar 150.000 suara yang masuk.
Akhirnya, FIFA memutuskan untuk membagi dua penghargaan itu dengan menyatakan Maradona sebagai "Internet Player of the Century". Pele sendiri dinobatkan sebagai "Player of the Century", gelar yang diambil berdasarkan suara juri utama dan komite "Football Family" yang berisikan jurnalis, ofisial, dan pelatih sepakbola.
Mungkin solusi itu tidak bisa memuaskan semua pihak, tapi mungkin Premier League perlu mengikuti cara tersebut, membagi penghargaan itu ke dalam dua kategori di masa depan jika ingin terus melibatkan publik dalam pemilihan Player of the Month.
Kali ini mereka berhasil mendapatkan lebih dari 400.000 suara untuk penghargaan ini tapi seberapa banyak yang akan mengikutinya lagi setelah mengetahui bahwa suara mereka tidak terlalu berpengaruh pada keputusan akhirnya?