Tuesday, March 20, 2018

Laporan Under-18: Chelsea 2 Tottenham 0

Pemain muda kami sukses meraih trofi pertama mereka musim ini, usai menjuarai Under-18 Premier League Cup perdana, di Cobham yang tertutup salju berkat kemenangan meyakinkan atas Tottenham.

Skor 2-0 tidak menggambarkan dominasi pasukan Jody Morris, yang sudah mencetak dua gol di babak pertama, tembakan yang menerpa tiang dan eksekusi penalti yang dihentikan lawan. Brace Charlie Brown akhirnya menjadi pembeda. Kedua penyelesaiannya, dari jarak dekat, itu memberikan kemenangan ke-11 beruntun bagi tim sekaligus trofi pertama mereka musim ini.
Morris membuat dua perubahan dari tim yang berjuang keras mengalahkan Everton dengan memainkan Juan Castillo dan Brown. Brown sendiri sudah mencetak tiga gol di lima laga terakhirnya di kompetisi piala domestik musim ini. Castillo berpartner dengan George McEachran dan Tariq Uwakwe untuk mensupport Brown yang bertugas sebagai striker tunggal, sementara Billy Gilmour bekerja sama dengan Conor Gallagher sebagai gelandang tengah.
Kelima pemain bertahan tidak diganti. Karlo Ziger tetap berada di bawah gawang, di belakang lini pertahan yang diisi oleh Tariq Lamptey, Marcel Lavinier, Marc Guehi dan Clinton Mola. Sementara, Tottenham melakukan tiga pergantian dari tim yang menang 4-1 atas Arsenal di babak sebelumnya. Pasukan Scott Parker berupaya membalas kekalahan dari the Blues di putaran kelima FA Youth Cup.
Salju kembali turun di Surrey akhir pekan ini, meninggalkan hamparan karpet putih di lapangan latihan kami di Cobham pada Minggu pagi, meski berkat kerja keras ground staff, lapangan tetap bisa digunakan sesuai jadwal. Suhu yang dingin membuat kedua tim saling menjajagi terlebih dulu. Bola lebih banyak dikuasai oleh tuan rumah, sedang tim tamu memilih untuk bertahan dengan kompak.
Uwakwe jadi pemain pertama yang melepas tembakan, di menit kedua, lewat sebuah tembakan kaki kiri usai menusuk dari kanan, namun sepakannya dengan mudah dipatahkan oleh kiper Spurs asal Belgia, Jonathan de Bie. Terjadi kemelut di muka gawang di seperempat jam pertama, sebelum kesalahan pemain belakang Tottenham memberi kami kesempatan.
Adalah Uwakwe yang memanfaatkan kesalahan itu dengan membawa bola ke depan dan dijatuhkan oleh kiper di dalam kotak penalti. Kapten Gallagher mengeksekusi tendangan dua belas pas itu dengan penuh percaya diri, meski gagal memasukkan dua tendangan penalti di markas Spurs musim ini, dan menendang bola ke sudut bawah gawang. Lagi-lagi, Di Bie berhasil menggagalkannya.
Bukannya terpukul dengan kegagalan itu, pasukan Jody Morris malah semakin ganas. Tak lama kemudian, Gilmour memberikan peluang bagi Mola, dan memaksa kiper lawan untuk melakukan penyelamatan.
Dominasi kami akhirnya terbayar di menit ke-18 ketika Brown mencetak gol ke-17nya. Sebuah sepak pojok dari sudut kanan dikembalikan ke kotak 18 yard, gagal disambut Guehi dengan tendangan akrobatiknya, namun bola liar jatuh ke kaki Brown yang dengan mudah mensontek bola dari jarak enam yard.
Upaya Ziger di lapangan kami berhasil diredam sementara sebuah sepak pojok dari Phoenix Patterson juga gagal merepotkan kiper Kroasia itu. Namun, Tottenham harus lebih ambisius setelah tertinggal dan ini membuka kesempatan bagi pasukan Morris untuk mengancam melalui serangan balik. Brown bahkan nyaris menggandakan keunggulan di pertengahan babak pertama.
Sebuah clearance dari kotak penalti kami diambil oleh McEachran yang lalu melepas umpan sempurna ke Brow yang tengah berlari dari tengah lapangan. Si striker menembak, namun bola mengenai tiang gawang, bola sempat mengenai dirinya dan kemudian diamankan oleh Di Bie dengan reaksi yang mengagumkan.
Tim tamu kembali mendapat pukulan setelah laga berjalan setengah jam ketika Brooklyn Lyons-Foster, bek tengah mereka, terpaksa ditarik keluar akibat cedera. Pergantian pemain itu memberikan dampak positif pada Spurs, namun penguasaan bola mereka tidak diikuti dengan kreasi-kreasi di depan gawang, kontras dengan rival London mereka.
Tendangan bebas McEachran nyaris bisa disambut Brown di tiang dekat. Lamptey, full-back, memflick bola ke atas Jamie Reynolds kemudian menggiring bola ke dalam kotak penalti dan kembali memaksa De Bie melakukan penyelamatan terhadap tendangan kerasnya. Sepak pojok berikutnya bisa dihalau lawan dengan sundulan. Gilmour, gelandang Under-17 Skotlandia itu melepas tembakan keras dari luar kotak penalti, namun tidak dapat menembus area penalti yang padat.
Akhirnya, the Blues merayakan gol kedua mereka sebelum turun minum lewat Brown dan kami pun meninggalkan babak pertama dengan keunggulan yang cukup aman. Gilmour menjadi kreator dari peluang itu, memberikan umpan kepada si striker lewat sebuah umpan tersamar, dan tak disia-siakan Brown dengan penyelesaian kaki kanan yang mengarahkan bola ke sudut bawah gawang.
Spurs harus segera merespons gol itu untuk mempertahankan asa di final ini, namun tim tuan rumah tetap menguasai permainan, sejak babak dimulai. Tendangan McEachran, didahului oleh aksi menahan bola Brown, yang terdefleksi sedikit melebar dari gawang. Sementara, Mola nyaris membobol gawang lawan ketika tandukannya yang menyambut sepak pojok masih melambung tipis di atas mistar gawang.
Tim asuhan Parker terus bermain dari belakang namun kerap kehilangan bola di tengah lapangan, membuat Chelsea semakin banyak mendapat peluang tembak. Brown kembali mengancam dari kiri, mengarahkan sebuah umpan siang ke Gilmour, meski sepakannya kembali diblok pemain alwan. Lamptey dua kali mendapat peluang. Pertama melalui tembakan jarak jauh yang masih melebar, sebelum kemudian tekel Jonathan Dinzeyi menghentikan pergerakannya yang sudah berhasil melewati empat bek lawan.

Diambil dari foto milik Graeme Reeves.
Harapan Brown untuk mencetak hat-trick di final pupus setelah sepakan terakhirnya, memanfaatkan umpan silang Castillo, melebar. Sementara, penggantinya, Martell Taylor-Crossdale langsung memaksa De Bie melakukan tepisan hanya beberapa detik setelah masuk ke lapangan.
Tottenham jarang memberika ancaman di sepertiga akhir lapangan, namun Ziger masih harus waspada demi menjaga clean sheet dengan mementahkan percobaan Troy Parrot dari sebuah sepak pojok. Skor akhir mestinya bisa lebih besar lagi, namun tembakan Taylor-Crossdale, menyambut umpan McEachran, terdefleksi dan melebar, sementara sentuhan brilian dari belakang oleh Timothy Eyoma menggagalkan usaha pemain pengganti, Tino Anjorin, yang diawali dari pergerakan Lamptey di sektor kanan.
Kemenangan pasukan Jody Morris ini sangat layak diperoleh dan trofi baru ini menambah panjang daftar kesuksesan kami di level Akademi.

Chelsea (4-2-3-1) Karlo Ziger; Tariq Lamptey, Marcel Lavinier, Marc Guehi, Clinton Mola; Conor Gallagher (k), Billy Gilmour; Tariq Uwakwe, George McEachran, Juan Castillo (Tino Anjorin 83); Charlie Brown (Martell Taylor-Crossdale 71)
Cadangan yang tidak dimainkan 
Jack Wakely, Nicolas Tie, Daishawn Redan
Pencetak gol Brown 18, 45+1
Tottenham Jonathan de Bie (k), Tariq Hinds, Jamie Reynolds, Jamie Bowden (Paris Maghoma 59), Timothy Eyoma, Brooklyn Lyons-Foster (Jonathan Dinzeyi 30), Dilan Markanday, Oliver Skipp (Rodel Richards 76), Troy Parrot, Phoenix Patterson, J’Neil Bennett
Cadangan yang tidak dimainkan 
Joshua Oluwayemi, Armando Shashoua
Kartu kuning Hinds 38
Wasit Daniel Austin