Michael Ballack bergabung dengan Chelsea dengan status bebas transfer dari Bayern Munich pada musim panas 2006 dan bermain selama empat musim yang penuh kesuksesan bersama the Blues, yang dipuncaki dengan gelar Ganda di musim 2009/10.
Dalam sebuah wawancara dengan majalah resmi Chelsea, mantan kapten timnas Jerman ini mengingat masa-masa indahnya saat berada di London barat, sebagai bagian dari tim kuat Chelsea saat itu. Pada wawancara bagian pertama ini, ia bicara soal alasannya bergabung dengan Chelsea dan kenangannya dalam bermain bersama tim yang memiliki banyak karakter kuat.
Apa yang Anda ingat dari situasi ketika pindah ke Chelsea pada musim panas 2006?
Aku sudah bermain selama empat tahun untuk Bayern dan target terbesarku adalah untuk menjuarai Liga Champions. Saat itu Chelsea tengah membangun klub dengan cara yang baru, berinvestasi pada banyak pemain dan memiliki target terbesar yang dipunyai setiap pesepakbola.
Jadi, kombinasi itulah yang membuatku melihat bahwa masa depanku ada di klub ini, dan tinggal di London, bersama keluargaku adalah alasan lainnya mengapa aku memilih Chelsea. Aku bergabung dengan klub pada saat mereka sudah menjuarai liga sebanyak dua kali, tapi mereka juga ingin memenangi titel internasional.
Apakah Anda sudah punya gambaran tentang sepakbola Inggris sebelumnya dan apakah kenyataannya sama ketika Anda mulai bermain untuk Chelsea?
Tentu ada ekspektasi tertentu mengenai sepakbolanya, yaitu keras, mengandalkan fisik, tapi aku selalu percaya diri bisa beradaptasi dengan baik karena menurutku, gaya bermainku cocok dengan sepakbola Inggris.
Dan ketika aku datang dan mulai bermain, apa yang kuharapkan ternyata benar karena wasit tidak terlalu sering meniup peluit untuk memberikan tendangan bebas. Terjadi banyak tantangan, dan tingkat adu fisiknya jauh lebih kuat daripada liga-liga lainnya.
Aku sudah bermain di Jerman selama bertahun-tahun dan, di Liga Champions, kettika Anda berhadapan dengan tim asal Spanyol atau Italia, Anda mendapat gambaran yang baik tentang liga lainnya, dan sepakbola Inggris jauh lebih fisikal. Jujur, itulah ekspektasiku.
Ada banyak pemain Chelsea yang menjadi kapten bagi tim nasional mereka. Pernah bermain di tim yang punya begitu banyak pemimpin?
Tidak, itu bukan sesuatu yang biasa. Itu suatu pengecualian, dan pada saat itu, situasinya sangat enak, terutama bagi pelatih yang harus mengelola pemain-pemain besar itu. Ini tak selalu mudah, tapi kurasa kami melakukannya dengan baik, dan kami punya intelegensi yang mengatakan bahwa kami perlu mundur selangkah pada situasi tertentu.
Kita tak selalu punya panutan, mungkin seperti sebelumnya, ketika aku bermain untuk klub yang punya satu, dua, maksimum tiga pemimpin, dan ini kami selalu mengandalkan mereka dalam situasi-situasi sulit. Kami punya banyak pemimpin atpi aku yakin kami selalu bisa saling dorong satu sama lain, tidak hanya saat bermain tapi juga pada saat berlatih, dan selalu ada pemain yang bisa memberi dampak.
Ada banyak karakter - tak hanya kapten, tapi secara keseluruhan, skuat itu punya karakter yang sangat kuat. Permasalahan utamanya adalah memiliki pelatih yang kuat yang dapat menghadapi semua pemain itu demi menjalankan tugas dan menempatkan energi masing-masing ke arah yang benar. Ada sedikit perbedaan antara menuju ke arah yang tetpat dan pergi ke arah yang dapat menciptakan masalah di situasi itu.
Ketika memiliki karakter-karakter itu dan kita tidak memberikan 100 persen, ini bisa jadi masalah. Tapi aku merasa, selama empat tahun, itu tak pernah terjadi – semua pelatih dapat menanganinya dengan sangat baik.
Anda datang ke Chelsea sebagai seorang gelandang yang lengkap dan sudah berpengalaman, tapi adakah yang Anda petik dari empat tahun di sini?
Ya, tentu saja. Aku selalu belajar. Itu situasi yang sama sekali baru buatku karena aku selalu bermain di Jerman. Aku mendapat pandangan dari pemain, media dan penggemar di Jerman Tapi, kemudian aku pindah ke negara lain dan aku mulai dari awal lagi, memang tidak dari nol, tapi itu sesuatu yang baru.
Aku mempelajari cara berlatih, persiapan, mental Inggris, yang berbeda, dan harus beradaptas dengan itu, tapi di saat yang bersamaan, aku coba memberikan ide sepakbola Jerman, dan rekan-rekan setimku juga mencoba memberikan ide-ide dari negara lain. Setiap klub dan negara punya tradisi, identitas, atmosfer pertandingannya masing-masing – dan itulah yang membuat masa-masaku di Chelsea terasa istimewa. Ini sangat berbeda dengan apa yang kualami sebelumnya. Aku dikelilingi oleh pemain-pemain dari berbagai timnas, dan aku bisa mengambil sedikit dari setiap orang di sekitarku.
Kapan Anda merasa berada dalam kondisi terbaik Anda selama empat tahun di Chelsea?
Aku merasa cukup nyaman beberapa bulan setelah pulih dari cedera di musim 2007/08. Aku mengalami masa-masa sulit pada awal kembali bermai, di bawah José Mourinho. Aku ingin bermain tapi tak bisa, jadi setelah mendapat cedera, aku sangat termotivasi untuk bisa bermain kembali, pada saat itu di bawah Avram Grant. Kurasa aku mengalami masa-masa menyenangkan pada periode itu. Aku tak bisa menjelaskannya tapi aku merasa sangat baik ketika kami maju ke final Liga Champions musim itu.
Itu periode yang hebat buatku, tapi musim berikutnya – 2008/09 – juga, ketika kami lolos ke semifinal setelah mengalahkan Barcelona. Mungkin periode terkuat kami di musim itu adalah pada Maret dan April. Kami terlihat sangat kuat dan aku benar-benar berpikir bahwa itulah tim terbaik kami, periode terbaik kami, selama aku bermain di Chelsea. Bahkan meski tidak menjuarai liga, kami amat sangat bagus di Liga Champions dan kami tidak beruntung tahun itu.
Aku juga akan menyebut musim terakhirku, di bawah Carlo Ancelotti, di mana kami mencetak sangat banyak gol dan juga tampak sangat nyaman. Aku bermain sedikit lebih dalam di lini tengah, di depan bek, dan kami bisa memainkan sepakbola yang sangat bagus di tahun di mana kami meraih gelar juara Ganda.
Wawancara bagian dua akan kami rilis pada Jumat.
